Kami

Kami

Rabu, 26 Oktober 2011

Permasalahan

Ada Apa?

Ada Apa Dengan Remaja Masa Kini ?

Ini merupakan sebuah fakta yang telah diamati oleh para peneliti di seluruh dunia tentang remaja masa kini. Ada apa dengan remaja masa kini? Apa yang telah terjadi? Berikut kita ulas secara lebih rinci.

Studi yang dilakukan terhadap kebiasaan orang menggunakan ponsel, menonton televisi, dan mengakses situs web media sosial, memperlihatkan gejala yang mirip dengan kecanduan obat. Sebuah penelitian dilakukan dengan melibatkan relawan dari 12 universitas di seluruh dunia, termasuk 125 siswa di Bournemouth University, Inggris. Relawan diminta menghabiskan 24 jam tanpa akses ke komputer, telepon genggam, iPod, televisi, radio, bahkan surat kabar. Para peserta hanya diizinkan menggunakan telepon biasa atau membaca buku.

Dr Roman Gerodimos, pengajar Komunikasi di Bournemouth University yang melakukan studi ini, mengatakan, “Kami tidak hanya melihat gejala psikologi, tapi juga gejala fisik.”

Para peserta diminta menulis menulis buku harian tentang pengalaman mereka selama kurun waktu tersebut. Tulisan-tulisan dalam buku harian menunjukkan banyak yang menunjukkan kegelisahan, cemas, atau terisolasi.

Beberapa orang yang ambil bagian dalam penelitian ini mengatakan merasa seperti tiba-tiba harus berhenti mengonsumsi obat. Sementara peserta yang lain mengatakan seperti sedang menjalani diet. Para peneliti menyebut kondisi ini sebagai kelainan kehilangan informasi (Information Deprivation Disorder). “Kadar penggunaan teknologi modern dan media baru ini telah mengubah kita. Hal yang mencengangkan kami adalah betapa tergantungnya orang-orang saat ini dengan teknologi. Orang-orang tidak lagi memiliki arloji atau jam dengan alarm karena mereka bergantung kepada telepon genggam untuk membangunkan mereka. Para siswa mengatakan merasa seperti diet, berhenti merokok, dan berhenti menggunakan obat. Kata-kata tentang kecanduan terus berulang,” kata Dr Gerodimos.

Penelitian juga menunjukkan, relawan berusaha mengatasi situasi terisolir dari teknologi ini dengan berjalan-jalan atau mengunjungi tetangga. Kepada Dr Gerodimos, mereka mengaku kesunyian membuat mereka tidak nyaman dan canggung. "Tapi setelah terbiasa, mereka mulai menyadari lebih banyak hal di sekitar mereka, seperti suara burung atau suara-suara dari tetangga,” tutur Dr Gerodimos.

Para peneliti pun menyarankan sehari tanpa akses ke teknologi. “Jika lebih memperhatikan cara kita menggunakan teknologi, kita dapat mengendalikan dampak teknologi terhadap kita. Mungkin, setiap orang harus mencoba tanpa teknologi untuk sehari dalam setahun,” pungkas Dr Gerodimos.
MROEE | Kecanduan Teknologi Mirip Kecanduan Rokok dan Narkoba. Para peneliti menemukan bahwa berhenti menggunakan teknologi, seperti mematikan ponsel, menghindari internet dan mematikan televisi dan radio, jaman sekarang ini, menyebabkan orang menderita gejala yang mirip dengan yang terlihat pada orang yang mengalami kecanduan narkoba yang menggigil kedinginan.
Para relawan dijauhkan dari aktivitas seperti, email-email-an, mengirim pesan teks, update status selama 24 jam. Mereka menemukan bahwa para peserta mulai mengalami gejala yang biasanya terlihat pada perokok yang mencoba untuk menyerah.

Beberapa dari mereka yang ikut ambil bagian mengatakan bahwa mereka merasa seperti tengah menjalani terapi untuk bisa lepas dari kebiasaan mengkomsumsi obat keras, sementara yang lain mengatakan mereka merasa seperti sedang diet. Kondisi ini sekarang sedang digambarkan sebagai Gangguan Kehilangan Informasi (Information Deprivation Disorder).

Dr. Roman Gerodimos, seorang dosen komunikasi yang memimpin kajian internasional untuk seksi Inggris, mengatakan: "Kami tidak hanya melihat gejala psikologis, tetapi juga gejala fisik."

Temuan itu akan menjadi bahan keprihatinan yang diajukan oleh para ahli saraf dan psikolog tentang dampak penggunaan berlebihan internet, permainan komputer dan situs-situs jejaring sosial, yang disebut "Net Generation" para remaja dan orang dewasa muda.

Dalam eksperimen tersebut, yang disebut Unplugged, sukarelawan di 12 universitas di seluruh dunia - termasuk 125 mahasiswa Bournemouth University - selama 24 jam dibiarkan tanpa akses ke komputer, ponsel, iPod, televisi, radio dan bahkan surat kabar.

Mereka diperbolehkan untuk menggunakan landline telephones atau membaca buku. Peserta diminta untuk menyimpan catatan harian mereka tentang pengalaman mereka selama 24 jam tanpa akses teknologi dan entri dalam buku harian tersebut menunjukkan bahwa banyak perasaan gelisah, cemas atau terisolasi dicatat.

Penelitian ini dipimpin oleh International Centre for Media and the Public Agenda Universitas Maryland. Dr. Gerodimos dari Bournemouth University, mengatakan: "Sejauh mana kita menggunakan beberapa teknologi modern ini dan media baru mengubah kita."

"Para peserta menjelaskan perasaan gelisah dan terus meraih ponsel mereka."

"Ada juga beberapa efek yang baik, yang mengembangkan mekanisme bertahan mereka pergi keluar untuk berjalan-jalan dan mengunjungi teman-teman daripada duduk di depan komputer."

"Apa yang luar biasa bagi kami adalah bagaimana orang sekarang tergantung pada teknologi mereka. Orang-orang seringkali tidak memiliki arloji atau jam alarm karena mereka bergantung pada ponsel mereka untuk membangunkan diri mereka"

"Banyak dari mereka mengatakan kesunyian membuat mereka cukup tidak nyaman dan canggung," katanya. "Tetapi karena mereka terbiasa dengan kondisi itu, mereka mulai memperhatikan lebih banyak hal-hal di sekitar mereka seperti burung-burung bernyanyi atau mendengar apa yang tetangga mereka lakukan."

Dalam refleksi mereka tentang apa yang mereka telah lewati, para relawan dengan bebas mengakui bahwa mereka mengalami gejala penarikan diri. Para mahasiswa menyamakan pengalaman itu seperti sedang diet, berhenti merokok dan menggigil kedinginan seperti orang kecanduan."

"Beberapa dari mereka tidak merasa kesulitan. Kebanyakan berjuang pada awalnya, mengalami gejala-gejala, sebelum mereka mengembangkan mekanisme penanggulangan yang bisa membantu untuk mengalihkan perhatian mereka."
"Jika kita sedikit lebih sadar bagaimana kita menggunakan teknologi, mungkin membantu kita untuk mengontrol efeknya terhadap kita. Mungkin semua orang harus mencoba hidup tanpa teknologi untuk satu hari setiap tahun
Namun, bukan berarti orang dewasa tidak punya ekspetasi apa-apa berkaitan dengan kemajuan teknologi di masa depan. Buktinya, sebanyak 45% orang dewasa memprediksi bahwa di tahun 2015 nanti saluran telepon sudah tidak lagi memerlukan kabel, sementara hanya 17% remaja yang berfikir begitu. Uniknya, para remaja juga beranggapan bahwa inovasi baru di tahun 2015 nanti mampu membantu dunia dalam mengatasi permasalahan seperti air bersih (91 %), kelaparan (89 %), penyakit (88 %) dan juga polusi (84 %). Meskipun sebanyak (77 %) orang dewasa mengikuti teknologi akan berperan penting pada saat itu, namun mereka tidak yankin inovasi di masa depan mampu mengatasi masalah kelaparan di seluruh dunia.

Merton Flemings, ilmuwan yang memimpin proyek penelitian itu mengaku sangat terkejut dengan hasil analisis yang mereka lakukan. Dia tak pernah mengira kalau para remaja sangat yakin bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah jalan keluar untuk mengatasi berbagai masalah yang menyangkut hajat hidup manusia di masa depan nanti.

Remaja Masa Kini

Remaja yang bergantung pada jejaring sosial.


Remaja dan jejaring sosial.









Contoh Perilaku Remaja yang Bergantung Pada Jejaring Sosial


Tidak ada komentar:

Posting Komentar